Adakan Bedah Buku Mari Pergi Lebih Jauh dan Di Tanah Lada Karya Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie, Penerbit KPG Gandeng Dosen PBI FKIP UMM

PBI News – Membuktikan komitmennya di bidang sastra, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dalam acara bedah buku “Mari Pergi Lebih Jauh” dan “Di Tanah Lada” karya Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie. Acara yang dilaksanakan di New Book Store UMM tersebut turut mengundang dosen PBI FKIP UMM, Candra Rahma Wijaya Putra, S.S., S.Pd., M.Pd. Dosen yang akrab disapa Pak Candra tersebut adalah salah satu dosen yang ahli di bidang sastra. Dalam diskusi yang berlangsung, Pak Candra menyoroti karakter Afa, seorang anak yang meskipun hidup dalam kekerasan dan teraniaya, tetapi masih menunjukkan rasa bahagianya serta kasih sayang kepada ibunya. Hal tersebut menunjukkan bahwa mau bagaimanapun keadaannya, jangan lupa untuk bahagia. “bagaimana sastra memberikan ruang kepada suara-suara yang hilang. Berdasarkan hal tersebut, karya sastra anak dan membawa sudut pandang anak itu berbeda. Karya sastra anak itu memang bisa dipahami anak-anak, sedangkan sastra yang membawa isu tentang anak-anak itu akan terasa sulit untuk memahami, karena yang bisa memahaminya hanya orang dewasa. Karya yang membawa isu anak itu diwajibkan dan karya ini wajib dibaca agar bisa menjadi orang tua, orang dewasa, atau kakak yang baik buat anak-anak,” jelas Pak Candra. Tidak hanya itu, Pak Candra juga mengajak seluruh mahasiswa baru yang sedang menempuh mata kuliah Sastra Modern sebagai salah satu bentuk komitmen Prodi PBI FKIP UMM dalam memberikan ruang terbuka untuk berdiskusi tentang perkembangan sastra modern saat ini. Dalam diskusi yang berlangsung seru tersebut, Pak Candra juga berharap dengan mempelajari karya sastra dapat lebih memahami dan merasakan empati, serta peka terhadap lingkungan sekitar. “Bacalah, karena kepala kita itu berbeda dengan perut. Perut lapar ada alarmnya, tapi kalau kepala kita kosong tidak ada alarmnya, karena itu bisa memabukkan,” terangnya. Acara diskusi semakin seru, karena tidak hanya Pak Candra, bedah buku tersebut juga dihadiri langsung oleh penulisnya, Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie. Dalam paparannya, penulis yang akrab dipanggi Kak Ziggy tersebut turut memberikan pesan kepada generasi muda, khususnya kepada Gen Z agar senantiasa menumbukan budaya literasi. “Di era yang semakin canggih seperti sekarang, kita dimudahkan dalam menjangkau sumber-sumber bacaan. Harapannya teman-teman bisa memanfaatkan previlese itu,” jelasnya. Sebagai penutup, Pak Candra menyampaikan sebuah jargon, “Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia tapi tidak suka membaca? Jangan ya dek ya”. Dan disambut riuh peserta yang hadir dalam acara bedah buku tersebut. (han/fif)
Tempuh Mata Kuliah Sastra Modern, Mahasiswa PBI FKIP UMM Ikuti Diskusi dan Bedah Buku Pergi Lebih Jauh Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

PBI News – Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM mengikuti Diskusi dan Bedah Buku Pergi Lebih Jauh Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie pada hari Sabtu, 19 Oktober 2024, di New Book Store UMM. Pengampu mata kuliah Sastra Modern, Candra Rahma Wijaya Putra.S.S., S.Pd.,M.A. juga menjadi narasumber dalam acara tersebut. Sastra modern menjadi salah satu mata kuliah satra yang ada di Prodi PBI FKIP UMM. Mata kuliah tersebut melingkupi kajian tentang puisi, prosa, serta karya sastra lainnya. Novel yang berjudul Pergi Lebih Jauh menjadi salah satu karya sastra modern yang menakjubkan, ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang menjadi narasumber utama pada acara ini. Seminar ini bertujuan untuk mengupas lebih dalam makna dibalik cerita, motivasi penulis, serta proses kreatif melahirkan buku yang telah mendapatkan perhatian luas. Dalam paparannya, dosen yang akrab disapa Pak Candra tersebut menjelaskan bahwa novel yang berjudul Pergi Lebih Jauh tersebut menggambarkan perjalanan hidup manusia yang mencari makna dari pengalaman dan perasaan yang kompleks seperti kerinduan, harapan, dan perjuangan menghadapi kenyataan. “Dengan gaya naratif yang khas dan bahasa yang puitis, pesan penting tentang perjalanan hidup seorang manusia dalam novel ini harusnya bisa relate dengan kehidupan saat ini. Tidak hanya itu, buku ini menjadi representasi kuat dari sastra modern. Melalui sudut pandang sastra modern, karya ini tidak hanya menceritakan kisah, tetapi juga mencerminkan keadaan zaman sekarang, di mana batas antara kehidupan nyata dan imajinasi semakin kabur,” lanjutnya. Oleh karena itu, dengan adanya mata kuliah Sastra Modern, mahasiswa bisa mendapatkan pemahaman terkait perkembangan karya sastra di era modern seperti sekarang ini. Sastra modern sering kali mengusung gaya penceritaan yang lebih eksperimental dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan sendiri dari lapisan makna yang tersembunyi, inilah yang membuat karya ini begitu relevan dan menarik untuk dibedah dalam seminar ini. Seminar ini sebagai salah satu sarana untuk memperdalam pemahaman tentang sastra modern dan mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Sastra Modern diharapkan dapat termotivasi dan mendapatkan pengetahuan baru. (ran/fif)