Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan literasi sastra melalui kegiatan pelatihan bedah naskah yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Srengat, Kabupaten Blitar. Kegiatan ini menghadirkan dosen BSI Modern, Candra Rahma Wijaya Putra, S.S., S.Pd., M.A., sebagai pemateri utama. Kehadiran BSI Modern dalam kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam mengembangkan kemampuan analisis teks sastra serta praktik teater di kalangan siswa.

Pelatihan ini diikuti oleh siswa-siswi yang tergabung dalam ekstrakurikuler Teater ASMAT. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, terutama karena materi yang disajikan tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik langsung dalam menganalisis naskah drama. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai struktur naskah sekaligus memperkenalkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Acara diawali dengan penyampaian materi mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran, khususnya dalam bidang teater. Dalam sesi ini, Candra Rahma Wijaya Putra, S.S., S.Pd., M.A. menjelaskan bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu untuk memperkaya proses kreatif siswa, mulai dari eksplorasi referensi, analisis karakter, hingga pengembangan dialog. Ia menekankan pentingnya literasi digital agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara kritis dan etis dalam proses pembelajaran.

Setelah sesi pengenalan AI, kegiatan dilanjutkan dengan materi inti berupa bedah naskah. Pemateri menguraikan unsur-unsur intrinsik drama seperti tokoh dan penokohan, alur, latar, konflik, dialog, serta amanat. Siswa diajak memahami bahwa analisis naskah merupakan fondasi utama sebelum sebuah karya dipentaskan. Tanpa pemahaman mendalam terhadap karakter dan struktur cerita, pementasan akan kehilangan kekuatan dramatiknya.

Dalam sesi tersebut, Candra Rahma Wijaya Putra, S.S., S.Pd., M.A. juga membagikan pengalamannya selama berinteraksi dengan siswa di SMA Negeri 1 Srengat. Ia menyampaikan, “Saya melihat potensi luar biasa dari siswa-siswi di sini. Mereka tidak hanya mampu membaca naskah, tetapi juga mulai memahami lapisan makna di balik dialog dan konflik. Proses bedah naskah ini penting agar mereka tidak sekadar menghafal peran, melainkan benar-benar menghidupkan karakter di atas panggung.”

Ia menambahkan, “Bedah naskah bukan hanya kegiatan akademik, tetapi juga proses reflektif. Ketika siswa memahami motivasi tokoh dan alur konflik, mereka belajar tentang empati, sudut pandang, dan dinamika kehidupan. Pengalaman di SMA Negeri 1 Srengat ini menunjukkan bahwa pembelajaran sastra bisa sangat kontekstual dan menyenangkan jika dikemas secara interaktif.”

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian kelompok. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk melakukan bedah naskah secara mandiri berdasarkan panduan yang telah diberikan. Diskusi kelompok berlangsung aktif dan kolaboratif, di mana siswa saling bertukar pendapat mengenai interpretasi tokoh, konflik, dan pesan yang terkandung dalam teks. Pemateri kemudian memberikan umpan balik atas hasil analisis masing-masing kelompok.

Melalui kegiatan ini, BSI Modern berharap dapat terus menjalin sinergi dengan sekolah-sekolah dalam pengembangan literasi sastra dan seni pertunjukan. Pelatihan bedah naskah di SMA Negeri 1 Srengat menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah mampu menciptakan ruang belajar yang inspiratif dan bermakna.