Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia menampilkan pertunjukan dramatic reading sebagai bentuk Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah Dasar-Dasar Keaktoran. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk evaluasi pembelajaran yang menuntut mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan keterampilan keaktoran secara langsung melalui pementasan naskah drama.
Mata kuliah Dasar-Dasar Keaktoran sendiri telah lama menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Sejak beberapa tahun terakhir, ujian akhir pada mata kuliah ini selalu dikemas dalam bentuk proyek nyata berupa pertunjukan dramatic reading. Melalui format tersebut, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengaplikasikan kemampuan interpretasi naskah, ekspresi vokal, serta penghayatan karakter yang dipelajari selama satu semester.
Pelaksanaan proyek dramatic reading ini dilakukan melalui beberapa tahapan pembelajaran yang sistematis. Tahap pertama dimulai dengan pemilihan naskah drama yang akan dipentaskan oleh masing-masing kelompok mahasiswa. Setelah naskah dipilih, mahasiswa kemudian melakukan proses bedah naskah untuk memahami unsur-unsur dramatik seperti karakter, konflik, latar, dan pesan cerita.
Selanjutnya, mahasiswa melakukan proses pemilihan aktor sesuai dengan karakter yang terdapat dalam naskah. Setiap anggota kelompok diberikan kesempatan untuk mengambil peran yang sesuai dengan kemampuan dan karakter yang ingin mereka eksplorasi. Setelah proses pembagian peran selesai, kegiatan dilanjutkan dengan latihan pengadeganan yang meliputi pengolahan vokal, ekspresi, intonasi, serta penghayatan emosi tokoh.
Latihan tersebut dilakukan secara intensif hingga mahasiswa benar-benar siap menampilkan dramatic reading di hadapan dosen pengampu dan mahasiswa lainnya. Pada tahap akhir, masing-masing kelompok menampilkan hasil latihan mereka dalam bentuk pertunjukan yang kemudian dinilai langsung oleh dosen pengampu mata kuliah, yaitu Dr. Hari Sunaryo, M.Si.
Dalam keterangannya, Dr. Hari Sunaryo menjelaskan bahwa metode evaluasi melalui pementasan dipilih agar mahasiswa memiliki pengalaman praktik yang nyata dalam memahami seni peran.
“Melalui dramatic reading, mahasiswa tidak hanya membaca teks drama, tetapi juga belajar menghidupkan karakter melalui suara, ekspresi, dan interpretasi. Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami proses dasar keaktoran sekaligus mengasah kepekaan artistik mereka,” ujar Dr. Hari Sunaryo, M.Si.
Ia juga menambahkan bahwa mata kuliah Dasar-Dasar Keaktoran dirancang untuk memberikan fondasi awal bagi mahasiswa dalam memahami dunia teater dan seni peran. Menurutnya, keterampilan tersebut penting karena banyak mata kuliah lain yang memerlukan kemampuan serupa, terutama yang berkaitan dengan pementasan drama, pembacaan sastra, dan produksi karya kreatif.
“Pembelajaran keaktoran ini tidak hanya berhenti pada satu mata kuliah saja. Kemampuan yang mereka pelajari akan sangat membantu ketika mahasiswa menghadapi proyek-proyek berbasis pementasan pada mata kuliah lain di semester berikutnya,” tambahnya.
Dengan adanya praktik seperti ini, pembelajaran di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada aspek teori bahasa dan sastra, tetapi juga memberikan pengalaman praktik yang mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa secara menyeluruh.