
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatat penambahan sembilan dosen bergelar doktor yang telah menuntaskan pendidikan doktoral mereka. Pencapaian ini merefleksikan adanya penguatan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan akademik Prodi BSI Modern UMM. Lebih dari sekadar peningkatan jumlah tenaga pendidik berkualifikasi tinggi, keberhasilan tersebut juga menjadi indikator komitmen program studi dalam membangun ekosistem pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang berorientasi pada modernitas, responsif terhadap perkembangan zaman, serta ditopang oleh tradisi riset yang kuat dan berkelanjutan.
Salah satu dosen yang baru menyelesaikan program doktornya, Dr. Purwati Anggraini, M.Hum., menegaskan bahwa keputusan menempuh pendidikan doktoral merupakan perjalanan panjang yang sarat dinamika. “Motivasi awal saya ingin memberi kontribusi lebih untuk ilmu bahasa Indonesia. Namun dalam prosesnya, motivasi itu berkembang bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk mahasiswa dan program studi,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam studi doktoral adalah menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan kehidupan personal. “Meneliti sering kali membuat kita bekerja hingga larut, sementara mengajar membutuhkan energi penuh. Tantangannya adalah menjaga ketahanan mental dan mampu beradaptasi dengan ritme tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Dekan II, Dr. Faizin, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa keberhasilan sembilan doktor secara bersamaan merupakan hasil dari pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan di tingkat program studi. “Ini bukan semata kerja individu. Prodi membangun atmosfer akademik yang memungkinkan dosen berkembang, mulai dari pendampingan riset, dukungan keikutsertaan seminar, hingga kebijakan akademik yang memberi ruang bagi dosen menyelesaikan studi dengan optimal,” ungkapnya. Bidang penelitian para doktor baru tersebut meliputi linguistik, literasi, pedagogi modern, hingga analisis bahasa berbasis teknologi. Beragam temuan yang dihasilkan diyakini akan memperkaya proses modernisasi kurikulum Pendidikan Bahasa Indonesia.
Menurut Dr. Purwati Anggraini, pengalaman menempuh pendidikan doktoral turut mengubah perspektifnya terhadap fenomena kebahasaan. “Bahasa itu hidup dan selalu bergerak. Ada momen-momen kecil dalam riset yang membuat saya memandang literasi digital dari sudut yang berbeda,” tuturnya.
Bagi mahasiswa, kehadiran sembilan doktor baru membawa dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran. Proses perkuliahan menjadi lebih kaya data empiris, pendekatan pedagogis semakin mutakhir, dan mahasiswa memperoleh kesempatan belajar dari dosen yang aktif dalam forum akademik nasional maupun internasional. “Mahasiswa akan merasakan bagaimana referensi menjadi lebih relevan dan pembelajaran semakin kontekstual,” jelas Dr. Faizin.
Sejalan dengan penguatan kapasitas akademik tersebut, komitmen pengembangan sumber daya manusia di lingkungan Prodi BSI Modern UMM juga tercermin dari sejumlah dosen yang saat ini tengah menempuh studi doktoral (S3), yakni Arif Setiawan, S.Pd., M.Pd.; Eggy Fajar Andalas, S.S., M.Hum.; Fida Pangesti, S.Pd., M.A.; Musaffak, S.Pd., M.Pd; serta Arti Prihatini, S.Pd., M.Pd. Partisipasi mereka dalam pendidikan doktoral bukan sekadar pemenuhan standar akademik, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat kompetensi substantif di bidang bahasa, sastra, dan pendidikan, sekaligus memperluas jejaring riset, memperkaya perspektif teoretis dan metodologis, serta mendorong peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kurikulum berbasis riset, produktivitas publikasi ilmiah, dan kolaborasi lintas institusi.
Menutup wawancara, Dr. Faizin menegaskan bahwa hadirnya sembilan doktor baru merupakan awal dari langkah panjang menuju program studi berstandar global. “Gelar doktor adalah amanah. Tugas kita berikutnya adalah membawa Prodi BSI Modern UMM naik kelas,” ujarnya.